Itinerary Liburan di Pulau Selatan New Zealand

Untuk keliling Te Waiponamu yaitu South Island, kita pilih road trip karena hemat dan terlebih karena terbatasnya transportasi umum. Pilihan ini tentu mendukung hobi foto lanskap Sestra. Kita bisa pull up di mana saja untuk cuci mata, istirahat, dan ambil foto. Sebelum lupa, aku tulis ulang itinerary New Zeland 12 hari: 

Hari 1: Queenstown Airport – Wanaka (61 km, 1 jam): sewa mobil lalu meluncur ke Wanaka. Panoramanya cantik banget: gugusan pegunungan dengan vegetasi aneka warna khas musim gugur. Waktu lewat Crown Range, Sestra bilang lanskapnya mirip Sumba. Kita inap di Oakridge Resort Wanaka. Tiba di sana jam 17.00 dan matahari sudah lenyap. Kita langsung ke supermarket untuk belanja bahan makanan.

Hari 2: Lake Wanaka: keliling danau yang cantik, memotret #thatwanakatree, dan kawanan mallard yang berisik seperti Donal Bebek. Lanjut jalan ke Waterfall Creek melewati vineyard. Di sungai, aku kaget lihat ada ikan salem (trout?) berenang naik dari danau all the way ke sungai. Amazing! Mirip tayangan dokumenter fauna!

Balada Ahamsi (Anak Hamlet Sini) Wannabe di Tepi Danau When going to a place, I always wonder how locals live their daily lives, enjoy their leisure time, spend weekends, and how they socialize. Read that most people in the south live in small towns or hamlets and they are outdoorsy, love being close to the nature. Think that is interesting. So, as the old travel adage suggests “do what the locals do,” I decide to stroll by the lake. Besides the weather is pleasant, the air is fresh, perfect to go out cuci mata, see and be seen. Feel like staring at a gigantic calendar. I am experiencing a pinch me is it real moment. Can’t help but admiring the colors. My first "full-blown" autumn. Many trees are evergreen but I am surprised to learn that some cemara conifers do change colors. Beautiful! Get to see many plants I previously only saw in encyclopedias like clovers, wild roses, lupines, oaks, and van Gogh’s favorite—poplars. And then I wonder, where is everyone? No one is seen mejeng at the entrance of the alley, no one is nongkrong in the parkiran, and no couple is pacaran by, let alone under, the bridge! See more mallards than fellow humans lol. At last I see people. They always say ‘hello’ every time they meet strangers. Some are walking their dogs, others are seen taking children to play in the lakeside park. And the park is equipped with some skatepark, toilets, and a barbecue facility—free for everyone to use. They put benches by the lake like they really know how to sit back and and enjoy the multi-million dollars view. #smalltownliving #hamlet #Wanaka #thatwanakatree #thosewanakamallards #LakeWanaka #purenewzealand #lovewanaka #NZmustdo #trekking #lakescape #GlendhuBay #outandabout

A post shared by Sem S. Purba (@theoriginalfin) on

Terlalu betah di danau sampai lupa, pertokoan tutup jam 18.00. Buru-buru deh ke downtown, cek Salvation Army Family Thrift Shop dan Wanaka Waste Busters. Lumayan, dapat sepatu hiking Merrell cuma NZD15! Masih bagus! “Sepatumu yang lama buang ya!” kata Sestra, merujuk ke sneakers dekil kesayanganku yang sudah 5 tahun. 

Hari 3: Roys Peak: gunung ini ada di kawasan Mount Aspiring National Park, Wanaka. Aku nggak pernah rencana naik gunung di negeri orang, lho, tapi Sestra pengin banget. Ampun dah, rute zigzag-nya memaksa kita naik 7 jam ke puncaknya di 1.578 mdpl! Untung pakai sepatu hiking “baru” yang proper. Pemandangan di atas….luarrr biasa! Berasa jalan di atas awan. Pegal-pegal dihilangkan dengan berendam air panas di bath tub.

Hari 4: Cardrona, Arrowtown, Wanaka (100 km pp): dua kota kuno yang kita lewati di perjalanan hari pertama. Banyak bangunan tua terawat baik, termasuk balai kota, gereja, pertokoan, dan hotel. Dibandingkan Cardrona, Arrowtown punya lebih banyak bangunan kuno dan pemandangan kota di lembah itu bagus banget.

cardrona-bradrona-newzealand-thedivingcomedy
Bradrona di Cardrona, instalasi seni interaktif dengan pesan yang berbobot.

Hari 5: Wanaka – Queenstown (61 km, 1 jam) – Arrowtown (20 km, 20 menit): check out dari penginapan dan meluncur ke The Warehouse untuk beli makanan, botol karet air panas, dan sleeping bag (biar tidur lebih anget di campervan). Ujung-ujungnya malah belanja baju dan sepatu, hahaha. Sehabis itu, kembalikan city car di bandara, menukarnya dengan campervan, lalu menikmati sunset di Queenstown Garden, kebun raya di tepi Lake Wakatipu. Setelah itu, ke Arrowtown Holiday Park. Malam pertama tidur di campervan….

Hari 6: Arrowtown – Te Anau (180 km, 2,5 jam) – Milford Sound (118 km, 2 jam): menyusuri Lake Wakatipu ke Te Anau, kota di tepi danau. Asli, danau-danaunya mengingatkanku ke Danau Toba di tanah leluhur. Kita berhenti di Fiordland National Park Visitor Centre untuk cari informasi dan lihat museum mininya. Setelah itu, aku masak di parkirannya dan makan di teman. Sebelum pergi lagi, kita isi bensin karena nggak ada SPBU di Milford Sound.

Sepanjang jalan, pemandangannya bagus banget, bahkan di tengah mendung. Kita berhenti di sana-sini untuk foto, termasuk di Mirror Lakes yang mungil tapi tersohor itu. Sebelum masuk Homer Tunnel, terowongan 1 km yang menembus gunung batu, turunlah hujan es! Ajaib. Sempat terdengar bunyi garuk-garuk di atap campervan, ternyata itu ulah kea, betet nakal yang lucu. Tiba di Milford Sound Lodge jam 18.00, lalu masak.

Hari 7: Milford Sound – Christchurch (750 km, 9 jam): meluncur ke pelabuhan, rencana pergi naik Jucy Cruise jam 09.45 untuk lihat keindahan yang dijuluki 8th wonder of the world. Hujan masih turun dari semalam. Well, badai sih. Begitu di pelabuhan, petugas bilang, kapal baru pergi dan kita harus tunggu jam 11.00-an (harga lebih mahal). Iseng, aku kelilingi semua konter kapal. Go Orange bilang kapalnya bertolak jam 10.00. Langsung beli!

milford-sound-newzealand-thedivingcomedy
Chasing waterfalls: ada ratusan, kalau bukan ribuan, air terjun di Milford Sound.

Di dalam, ada sekitar 30 penumpang. Kelihatan lowong banget. Kebanyakan orang memilih menunggu cuaca cerah mungkin, tapi kita tetap pergi karena menurut prakiraan cuaca, malam akan turun salju dan jalan ditutup. Dahsyat, di tengah badai, kita masih bisa lihat pemandangan. Asli, bagus banget! Gimana kalau di hari cerah ya? Gelombang cukup besar tapi untung kapal cukup masif. Di teluk, aku menyaksikan badai meniupkan aliran air terjun ke udara, hahaha! Asli keren banget. Should we call it air terbang? Loved the experience! 

Selesai cruise, langsung ke Queenstown dan mampir di Pak n Save belanja bahan makanan. Setelah tidur 4 jam di parkiran tepi Lake Wakatipu, kita ke Christchurch. Di Cromwell, salju turun seperti tepung halus dari tingkap langit…. Our first snow!  Setelah melewati Lake Tekapo, kita berhenti sejenak untuk lihat Milky Way yang terlihat jelas banget di angkasa….

Hari 8: Christchurch: tiba di Christchurch pagi dan langsung ke kolam renang umum untuk mandi (NZD6 per orang). Bikin sarapan di parkiran, lalu ke kota untuk isi bensin. Pas banget di sampingnya ada Dress Smart, factory outlet yang murah. Langsung belanja, hahaha. Setelah itu, ke Christchurch Botanic Gardens, Canterbury Museum, Arts Centre, dan Cardboard Cathedral. Setelah itu, inap di Amber Kiwi Holiday Park.

laketekapo-newzealand-thedivingcomedy
Church of the Good Shepherd, ikon Lake Tekapo.

Hari 9: Christchurch – Lake Tekapo, Lake Pukaki, Aoraki/Mount Cook (330 km, 4 jam): awalnya cerah, eh hujan begitu sampai di Lake Tekapo. Akhirnya jalan terus ke Glentanner Holiday Park. Hujan full seharian.

Hari 10: Aoraki – Lake Tekapo (105 km, 1 jam) – Clay Cliffs (87 km, 1 jam) – Makarora (170 km, 2,5 jam): hari cerah banget. Kita meluncur ke Aoraki dan mengaguminya dari berbagai sudut. Setelah itu, balik lagi ke Lake Tekapo dan Pukaki… Salut buat Sestra yang tangguh. “Mumpung cerah!” kata dia. Puas foto-foto, kita ke Clay Cliffs, gugusan tebing yang spektakuler. Lanjut ke Blue Pools dan inap di Makarora Country Cafe.

Hari 11: Makarora, Queenstown via Cromwell (179 km, 3 jam): berkendara pelan-pelan karena habis hujan dan diperkirakan bakal badai. Eh, benar juga. Pas lewat Wanaka, kita baca Crown Range ditutup karena salju. Jadi, harus putar lewat Cromwell. Meski lebih jauh, sepanjang jalan kita disuguhi pemandangan yang mirip film-film Natal: salju turun deras, membuat semua putih. Keren banget!

cromwell-winter-snow-thedivingcomedy

Hari 12: Balik ke Indonesia (total 12 jam): Luar biasa lho road trip New Zealand ini: mengarungi lebih dari 1.800 kilometer! Untung jalan di NZ bagus kualitasnya dan nggak bumpy. Bersyukur perjalanan aman, lancar, dan bahkan mengalami musim gugur dan musim dingin!