A Man Called Ahok, Movie Review

Akhirnya nonton juga! Cukup aneh di minggu pertama, film ini nggak ditayangkan di bioskop depan rumah. Padahal kan niat hati tinggal jalan kaki ke sana. Barulah di minggu kedua, A Man Called Ahok diputar di sana. Lucunya, aku justru nggak nonton di situ hahaha, melainkan di bioskop legendaris kesayangan warga: Denpasar Cineplex. Sudah lama penasaran, akhirnya kesampaian juga ke sana. Kali ini bareng Tante, Tary, dan Loretta. Asli, bioskopnya bernuansa jadoel, tapi terawat dan bersih!

Tahun ini adalah tahun aku terbanyak nonton film Indonesia di bioskop (pun di ponsel via layanan internet), dari Sekala dan Niskala sampai A Man Called Ahok. Seperti Aruna dan Lidahnya, aku ke bioskop karena aku sudah baca buku A Man Called #Ahok (karangan Rudi Valinka) terlebih dahulu.

Secara garis besar, visualisasi isi buku kurang lebih mirip dengan filmnya. Aku suka warna film ini. ‘Pewarnaan’ mungkin? Tim props, tim makeup dan busana, tim lokasi sudah bekerja dengan bagus. Jadoel abiss! Dapat lah ya suasana tempo dulunya.

Aku suka akting para aktor (aktor = aktor dan aktris), terutama Chew Kin Wah aka Anwar Abdullah sebagai Kim Nam, bokap Ahok. Waktu kulihat namanya di layar, kupikir, keren juga nih orang pakai nama Chinese dia sebagai nama profesional, mengingat pas zaman Orde Baru dulu, ‘warga keturunan’ (baca: keturunan C[h]ina) ‘disarankan’ pakai ‘nama Indonesia’ (as if mereka bukan WNI!). Ternyata Chew adalah warga negara Malaysia. Kudos, Encik Chew, your acting is very cool!

Para aktor juga terlihat usaha para aktor untuk kasih akting yang terbaik, sampai-sampai aku  pangling lihat Sita Nursanti, Aida Nurmala, Ria Irawan, Ade Irawan, dan Edward Akbar. Akting Ahok kecil (Eric Febrian) juga oke. Satu hal yang aku agak bingung adalah penggambaran Ahok kecil dan Ahok dewasa: kok jauh beda ya? Bukan mau bilang Ahok dewasa nggak mirip Ahok in person, melainkan Ahok cilik kalem, eh Ahok gede jedarrrr! Suara Daniel Mananta mengingatkan ke suara Ahok.

Banyak teman bilang, it’s a movie about father and son. Mungkin benar juga. Well, mungkin 70% begitu. Penggambaran Kim Nam Benar juga tuh kata (pemeran siapa ya?), Ahok bisa mendapat simpati warga Belitung [lebih kurang] karena [kedemawanan] Kim Nam. Dan benar banget tuh si Musyono muda yang bilang ke Ahok muda (izinkan aku pakai kata-kataku sendiri): beruntung banget lu Hok, punya bokap yang selalu hadir di your formative years!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *