Lawar, Lawar, Lapar! Sedapnya Lawar Marlin Khas Bali di Ketewel, Gianyar

Banyak teman dan kenalan yang menganggap ‘lawar’ adalah makanan berdaging yang dicampur dengan darah. Dulu, aku juga berpikir begitu, padahal lawar nggak selalu begitu. Perlu aku tinggal jauh di Alor untuk tahu itu. Jadi, suatu kali di pasar kaget hari Selasa, kulihat ada seorang ibu berjualan rumput laut yang penampakannya sangat menggoda selera: hijau, bersih, segar.

“Bibi, rumput laut ini dimasak seperti apa?” tanyaku.

“Lawar saja,” jawab dia.

Karena bingung, aku kembali tanya, “Lawar?”

Dia jawab, “Ya, lawar. Makan mentah saja dengan cabai dan parutan kelapa.”

Oh, jadi selama ini pemahamanku akan ‘lawar’ beda! Maka, aku pun berkonsultasi dengan KBBI. Menurut kamus itu, ‘lawar’ adalah ‘sayatan daging atau ikan’. Menurut pemahaman masyarakat di Alor dan di Bali, ‘lawar’ adalah menu dengan bahan utama yang mentah, tidak dimasak dengan panas (api). Akhirnya, aku memilih makna di tempat kakiku berpijak.

Nah, aku termasuk baru dengar ada lawar marlin, direkomendasikan Mirah beberapa purnama yang lalu. Penasaran karena aku suka seafood segar dan aku sudah pernah bagikan beberapa resep dengan daging ikan segar (mentah) yang dimatangkan oleh asam dan cita rasa pedas, baik itu dari merica pun cabai. Resep-resep itu antara lain gohu ikan, naniura, dan sashimi. Oh ya, akhirnya dengan Mel dan Inu, aku coba juga lawar marlin di Warung Bu Devi di Ketewel, Gianyar, belum lama ini.

Ibu Devi yang ramah menyajikan menu komplit yang terdiri atas lawar plek, lawar nangka, serapah marlin, komoh marlin, sayur, dan sate. Semuanya, kecuali sayur (tumis daun singkong dan kacang panjang) dan serapah (marlin panggang), memakai daging marlin mentah.

View this post on Instagram

Lawar, Lapar, Lapar, Lawar I’ve always loved fresh (raw) seafood, especially acid-cooked menus like ceviche, sashimi, naniura, and gohu ikan (I put some recipes in my web). So when @ida_ayumirah recommended ‘lawar marlin’ many full moons ago, I was excited. Finally, I tried the sultry menu at @lawarmarlin_tewel. Went there with Mel and Inu of @jaladwara_wisataarkeologi who love exploring gourmet—cooking associated with cultures. As we were devouring the menu enthusiastically, we engaged Ibu Devi in an endless interview about her delicious creations: ‘lawar plek’, ‘lawar nangka’, ‘serapah marlin’, ‘komoh marlin’, ‘sayur’, and ‘sate’. I bet she was unprepared to host such no(i)sy customers like us, but it was so nice of her to give us answers. According to her, she “discovered” the menu by trial two years ago. She was confident it would sell well. And so it does. She uses raw marlin meat to make the menus, except for ‘sayur’ (sauteed vegetables) and ‘serapah’ (grilled marlin). I was very impressed particularly by ‘lawar plek’: a combination of minced marlin (‘lawar’ means ‘raw’), minced boiled goatskin, grated coconut, and Balinese spices. Goatskin? Yes, the tender but crunchy ingredient serves as a substitute for octopus, since “cumi makin sulit didapat,” said Ibu Devi about how difficult it is to find octopus lately. Anyway we must choose our seafood wisely because many slow-breeding species, like octopus, are being overfished. The combination of the ingredients and spices tasted exceptionally good! The meat was tender, almost tuna-like, and the fat kinda melted in your tongue. And the robustness of the spices, especially the green peppercorns… I looked up to the heavens and whispered, “My Lord, how can a food taste this heavenly good?” The warung is now in my top table list in Gianyar, for sure. #lawar #lawarmarlin #deliciousbali #explorebali #gianyar #balinesefood #balinesecuisine #masakanbali #kulinerbali #indonesiancuisine #dapurbali #ketewel #wisatakuliner #seafood #marlin #seafoodforthought #gourmet #foodblog #foodwriter #travelwriter #travelblog #supportsmall #TheDivingComedy PS: I post the Indonesian version in my web. Click the link in my bio!

A post shared by The Diving Comedy (@divingcomedy) on

Aku paling suka lawar plek yang merupakan perpaduan antara daging marlin segar, parutan kelapa, lada muda hijau (mirip buah sepupunya, yaitu buah sirih), dan tentu saja bumbu-bumbu khas Bali. Oh ya, satu lagi bahannya: kulit kambing. Kutanya, kok pakai ini? Ibu Devi bilang, “Ini pengganti cumi karena cumi makin sulit didapat, Mas.” Benar juga, teksturnya lembut tapi juga kenyal-keras. Crunchy. Sedih juga mendengarnya. Memang kita perlu bijak memilih seafood karena ada banyak spesies yang butuh waktu lama untuk berkembang biak, seperti cumi, sudah diburu berlebihan sehingga sulit mendapatkannya.

Rasa lawar plek itu…sulit menceritakannya. Tekstur dagingnya lembut, cita rasanya mirip tuna, dan lemaknya yang nikmat itu terasa meleleh di lidah. Belum lagi bumbu-bumbu yang kaya rasa itu dan ledakan-ledakan sporadis buah lada muda di lidah, aduh, lezatnya! Rasanya nggak mau berhenti makan. Aku sempat menyayangkan, kok porsi lauknya mini banget, tapi begitulah esensi makan: you better don’t have it all. Sedikit nasi, sedikit lawar plek, segigit sate lilit, sejumput sayur, sesendok komoh, secolek sambal…nikmatnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *