A Man Called Ahok. Resensi Film

Aneh banget di minggu pertama, film ini nggak ditayangkan di bioskop depan rumah. Padahal niat hati nonton di sana karena dekat, tinggal jalan kaki. Barulah di minggu kedua, A Man Called Ahok tayang di sana. Lucunya, aku justru nggak nonton di situ hahaha, melainkan di bioskop legendaris kesayangan warga: Denpasar Cineplex (tempatnya 90’s banget, terawat dan bersih!), nobar dengan Tante, Tary, dan Oy.

Anyway, 2018 adalah tahun aku terbanyak nonton film Indonesia di bioskop (pun di ponsel berkat “bonus” data), dari Sekala dan Niskala sampai A Man Called Ahok. Seperti halnya dengan Aruna dan Lidahnya, aku ke bioskop karena aku sudah baca buku A Man Called #Ahok (karangan Rudi Valinka) terlebih dahulu.

Visualisasi filmnya (sutradara: Putrama Tuta) mirip dengan isi buku. Maksudku, secara garis besar, yaitu penggambaran sosok anak-bapak, yaitu Ahok dan Kim Nam, dari penuturan orang-orang yang mengenalnya. Aku suka setting-nya, terutama kampung dengan rumah-rumah panggung dan dirt roads. Sumatra banget. Tak lupa pantainya dengan bebatuan raksasa. Aku juga suka warna film ini (‘pewarnaan’ mungkin?) yang vintage. Tim props, tim makeup dan busana, tim lokasi sudah bekerja dengan bagus. Jadoel abiss! Dapatlah ya suasana tempo doeloe-nya. Aku pun sempat pangling lihat Sita Nursanti, Aida Nurmala, Ria Irawan, Ade Irawan, dan Edward Akbar.

Akting para aktor (aktor = aktor dan aktris)? Bolehlah, terutama Chew Kin Wah aka Anuar Abdullah sebagai Kim Nam, bokap Ahok. Waktu kulihat namanya di layar, kupikir, keren juga nih orang pakai nama Chinese dia sebagai nama profesional, mengingat pas zaman Orde Baru dulu, ‘warga Indonesia keturunan’ (baca: keturunan C[h]ina) ‘disarankan’ pakai ‘nama Indonesia’ (as if mereka bukan WNI!). Ternyata Chew adalah warga negara Malaysia. Kudos, Encik Chew, your acting is very cool! Kesulitan-kesulitan hidup sebagai warga Indonesia keturunan Tionghoa (akibat kebijakan-kebijakan diskriminatif) digambarkan dengan baik di film ini, meski porsi nggak sebanyak di buku. Penggambarannya mengena. Pun persepsi (praduga?) terhadap WNI keturunan Tionghoa sebagai kaum yang selalu berpunya (walau nggak selalu, misalnya pas Kim Nam sedang nggak punya duit untuk bantu pasangan tua yang anak perempuannya akan melahirkan dan mereka nggak punya uang untuk bayar bidan) juga digambarkan.

Well,  ada momen-momen haru dan pilu dalam film ini. Yes, pilu. Ada beberapa adegan yang benar-benar menggugah emosi…. Tapi tentu, ada banyak adegan kocak juga (wait for adegan pecah celengan adik hahaha). All in all, filmnya menghibur. Oh iya, thanks to penambahan subtitel, film yang kaya aksen dan bahasa ini jadi mudah dipahami.

Akting Ahok kecil (Eric Febrian) juga oke. Bolehlah. Satu hal yang aku agak bingung adalah penggambaran Ahok kecil dan Ahok dewasa: kok jauh beda ya? Bukan mau bilang Ahok dewasa nggak mirip Ahok in person, melainkan Ahok cilik kalem, eh Ahok gede jedarrrr! Meledak-ledak seperti the real Ahok is known for. Suara Daniel Mananta mengingatkan ke suara Ahok.

Banyak teman bilang, it’s a movie about father and son. Mungkin benar juga. Well, 70% begitu.  Menurutku. Penggambaran Kim Nam sebagai sosok yang sedang “membentuk” karakter (masa depan?) putranya. Hubungan Kim Nam-Ahok mengingatkanku ke Atticus dan Scout di buku/film To Kill a Mockingbird (baiklah, ini father-daughter, but still….). Begini, Atticus seorang pengacara yang dikenal dermawan dan nggak pandang bulu. Dia bahkan membela kasus warga kulit hitam  (kisah berlatar di era segregasi warna kulit di AS). Dia mendidik Scout dengan caranya sendiri. Dia biarkan Scout berinteraksi dengan banyak kenalan,  termasuk orang-orang yang tidak menyukai Atticus.

Sementara itu, Kim Nam seorang pebisnis, juga sering bawa Ahok ke mana-mana (ini juga ditulis di buku), termasuk ke tempat kerja. Benar banget tuh si Musyono muda yang bilang ke Ahok muda (izinkan aku pakai kata-kataku sendiri), “Beruntung banget lu Hok, punya bokap yang selalu hadir during your formative years!” Ahok pun tahu percakapan Kim Nam dengan orang-orang lain juga cara Kim Nam menghadapi persoalan-persoalan, termasuk yang morotin (memeras) dia. Kedermawanan Ahok pun kelihatan dia pelajari dari Kim Nam.

Daaaaaaaan, benarlah pula kata Musyono dewasa yang bilang ke Ahok dewasa (sekali lagi, izinkan aku pakai kata-kataku sendiri), “Ahok, kamu bisa mendapat simpati warga Belitung berkat kenangan yang baik warga akan bapakmu!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *