Soli-LOL-quy Aruna dan Lidahnya Dia Punya Teman-teman

Nonton karena aku sudah baca Aruna dan Lidahnya yang ditulis Laksmi Pamuntjak yang lumayan bagus kontemporer novelnya dan plotnya menarik karena sebenarnya ini kan istilahnya “hanya” novel wisata kuliner tapi supaya lebih seru dan serius maka ditambahkanlah tema investigasi wabah flu burung dan twist ini justru bikin aku curiga sebenarnya inilah misi utama penulis yaitu untuk menggelitik nalar pembacanya agar lebih kritis tentang dunia sekitar dan nggak menelan mentah-mentah apa yang tengah terjadi atau apa yang “disuguhkan” sehingga itu membuatnya jadi novel pseudofiksi sains dengan balutan kuliner.

Siapa pun yang sudah baca novelnya, pasti paham alasan aku tulis paragraf pertama seperti itu. Oke, balik ke filmnya. Sinematografinya bolehlah, indah pun. Hanya saja, kok potret besar kota-kotanya nggak terasa. Mbok ya ada zoom out view atau aerial view kotanya gitu. Biar ada gitu feel kota. Nggak salah juga kan kalau dijual sedikitlah keindahan kota-kota itu….

Btw, aku senang nonton bioskop siang-siang di jam pemutaran yang pertama, biasanya jam 10.40-an. Pasti sepi. Nggak ada yang asyik ngobrol pas film diputar. Beginilah rasanya kemewahan punya bioskop sendiri, barangkali. Nah, kupikir pemutarannya jam segitu karena sehari sebelumnya, Aruna dan Lidahnya diputar jam segitu dan jadwalnya padat sampai malam. Eh pas di hari aku nonton, pemutaran jam 12.40 dan cuma tiga kali pemutaran. Apa tandanya itu?

Adegan-adegan makanannya, boleh juga. Keren. Tastemade anyone? Wisata Kuliner anyoneThe thing is sebelum nonton, aku baru banget selesai makan nasi babi guling. Saking keasyikan, aku tertinggal 5 menit hahaha. Perut kenyang dan nggak tergoda lagi pas lihat makanan-makanan itu…. Tapi paling suka closeups dari dumpling ala Singkawang. What was the name?

Di novel, dijelaskan sejarah atau pembahasan seputar menu, misalnya masakan X diadaptasi dari masakan apa, inspirasi dari apa, dan sebagainya. Gourmet, gitu. Di film, itu (nyaris) absen dan pembahasan makanan fall flat di deskripsi-deskripsi singkat dari Aruna punya lidah dan lidahnya dia punya teman-teman (Bono, Надежда, Farish) tentang makanan. Mbok ya pas deskripsikan cita rasa dipanjangkan sedikit. It’s what the movie is supposed to be, right? Tentang makanan dan hal memakan makanan.

Aktingnya? Bagus tapi sang penonton budiman (aku!) berharap lebih cair sedikiiiit lagi. All in all, cukup menghibur. Boleh jugalah solilokui-solilokui, “sapaan” ke audiensi. Sudah lama nggak lihat itu di film. Kadang terasa pas, kadang terasa nggak perlu. Soli-LOL-kui.

And one more thing, aku ngakak pollll pas lihat Aruna di Pontianak (di adegan menjelang film habis). Dia jalan cari nasi goreng kaki lima wearing a red minidress. Orang bebas mau pakai apa, tapi kan ceritanya, tugasnya sudah selesai. Aku sampai berpikir, “Oh, si Aruna kehabisan baju bersih!” dan “Eh barangkali itu placement iklan dari sponsor.” Lolololllll!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *