Belah Ketupat. Kisah Bahagia dengan Tipat Nusantara

Ketupat, dulu pas kecil, adalah makanan yang setahun sekali kusantap, tepatnya pas lebaran ketupat yang jatuh beberapa hari pascalebaran Idulfitri. Para tetangga nan budiman akan antar makanan—ater-ater—pas lebaran ketupat, sebagaimana pas ada slametan (syukuran), misalnya pesta rumah baru dan bayi baru. Ketupat diantar di baki penuh lauk yang bikin liur terbit: opor ayam, labu masak santan, dan sambal goreng petai. So nice of them. Mi pun juga ater-ater karena di her hometown, tradisi ini lestari.

Waktu pindah ke Depok, aku heran, kok ketupat bisa dimakan tiap hari? Makanya aku heran dengan hidangan bernama kupat tahu. Tiap pesan, aku suka lihat prosesnya: tahu digoreng, bawang putih (mentah!) diulek di piring dengan bumbu kacang, lalu dikasih ketupat, bihun, dan guntingan tahu panas. Aromanya enak. Rasanya pun. Di Bali, tiap hari aku bisa pesan tipat cantok: irisan ketupat yang bermandikan bumbu kacang dan sayuran. Aku suka tipat cantok dengan sayuran yang banyaaaak.

Sooooo, dari mana asal ketupat? Tanah Arab? Menurut Kompas, sejak era pra-Indonesia, orang sudah bawa beras/nasi dalam anyaman janur. Para leluhur sering berlayar, jadi perlu simpan makanan pokok dalam kemasan yang handy—ketupat. Ditto menurut majalah Historia, ketupat sudah ada di zaman kerajaan-kerajaan besar nusantara seperti Pajajaran dan Majapahit.

ketupat-alor-thedivingcomedyTautan historis dengan Majapahit itu mengingatkanku ke ketupat yang kujumpai di Alor Kecil. Bentuknya mini (satu kenalan menjulukinya “cute”). Aku melihatnya dianyam dengan penuh kasih oleh kaum ibu di Pulau Kepa. Saat aku bernaung sendirian di bawah pohon asam yang terik, mereka nyamperin aku di bawah pohon untuk ngobrol sambil anyam ketupat. How sweet of them.

Warga Majapahit ditulis suka jelajah, termasuk ke Munaseli, Pulau Pantar, Alor. “Tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa”, begitu tulis Pemerintah Kabupaten Alor. Mungkin warga Majapahit jugalah yang bawa ketupat ke Alor dan memperkenalkannya sampai ke Malaysia, negeri Champa (Vietnam), dan Filipina.

Kemarin, aku baca NGI tentang 12 jenis ketupat yang nyaris punah. Dalam list, nggak ada yang bentuknya seperti di Alor Kecil. Berarti nggak terancam punah dong? Semoga nggak.


Well, I loooooooooooooove ketupat karena cita rasa nasinya beda. How to say it? Cita rasa janur kelapa “berakulturasi” alias meresap ke dalam nasi, menghasilkan rasa yang spesial. Fakta orang memasak nasi di dalam pelukan hangat daun itu pun sudah istimewa. Karena itu jugalah, aku suka rasa nasi dalam lontong dan arem-arem, juga nasi ketan dalam bakcang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *