“Belok Kiri, Dekat Stasiun ya, Cha”

Kita tiba di Malang malam, jadi nggak banyak yang kulihat berbeda atau asing begitu sampai. Begitu malam berganti hari dan kita mengarah ke Pemandian Air Panas Songgoriti, aku kaget. “Kota ini asing. Semua seperti….mengecil,” kataku dalam hati.

Begitu sampai di Songgoriti, aku berdiri di anak tangga terbawah di tempat wisata yang waktu aku kecil kusebut Kolam Songgoriti. Kulihat ada seorang tua keluar dari gerbangnya. Kutanya, “Pak, di mana kolam air panasnya? Di dalam?”

Ndak, Dik. Pemandiannya di situ,” katanya, menunjuk arah candi di seberang jalan dengan ibu jarinya—gestur khas Jawa.

Aku bilang terima kasih sambil tetap berdiri di situ. Aku merasa antara-ya-dan-tidak. Bingung. Dulu, aku ingat, tangganya terjal dan tinggi banget. Kok sekarang tangganya seperti cuma pendek ya? Di mana para penjual makanan dan kelinci di anak tangga ini?

Aku kasih tanda ke Acionk untuk memarkirkan mobil di depan bus. Kita turuni tangga semen. Di samping kanan ada reruntuhan candi, kabarnya dari abad ke-10. Wow. Dulu, hampir tiap tahun aku pergi ke Songgoriti dan nggak pernah tahu ada candi itu! Cuma 20 langkah jauhnya dari tempat aku berdiri tadi! Well, Malang dan Batu memang kota bersejarah, tapi aku nggak tahu peninggalan-peninggalannya begitu banyak! Bahkan Wendit dekat tempat Tante Rosje pun bersejarah: pemandiannya Hayam Wuruk. OMG. Baru tahu.

batu-malang-divingcomedy-theoriginalfin (2)

Penasaran, seperti apa kolam air panasnya. Ternyata….tunggal dan kecil (dibandingkan kolam-kolam pemandian air panas lainnya yang aku pernah lihat). Tapi, setelah berkendara 2 hari di mobil, kolam air panas itu benar-benar obat untuk otot-otot yang kelelahan. Itu yang aku rasakan. Aku lupa menanyakan efeknya pada Ocha dan Acionk. Walau pemandangan sekeliling kolam sudah diblokir dinding, pagar, sungai, bambu, dan beringin, aku masih bisa melihat puncak-puncak bukit sambil berendam.

Suatu perasaan sureal juga melingkupiku, mengetahui pemandian ini duluuuuuuuuuuu, keren pada zamannya. We perhaps could never be royals but, seperti kata pepatah, kalaulah ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi, dan aku sudah menumpang mandi di kolam raja-raja masa silam. Tentu aku sudah bayar terlebih dahulu. HTM Rp20 ribu termasuk kopi dan biskuit.

Pulangnya, aku jadi navigator. Posisi yang aku suka, karena bisa lihat pemandangan luas dari kursi depan. Aku jadi guide. “Lihat hotel ini, lihat taman itu….” Sekalian aku berusaha mengingat kenangan-kenangan masa kecil. Waktu lewat Sengkaling, aku sekali lagi bingung, kok ternyata Bahtera Nuh nggak sebesar waktu kecil. Mana ya sepeda air itu? Lho kok kios-kiosnya seperti nggak berubah? Di mana tangga melengkung itu? Aku mencari-cari wajah Mi, Tante Sorta, Om Ara di sana….

“Dulu, gue ke Songgoriti, Selecta hampir tiap tahun.”

Ocha pun tanya, “Bukannya lo bisa ke sini tiap weekend?”

Aku kaget mendengarnya. Iya ya, kenapa nggak? OMG. Dulu rasanya jauuuuuuuuh banget. Sekarang?

Setelah itu, kita makan di Bakso President. TBH aku nggak terlalu suka rasanya, tapi nggak tahu lagi di mana warung bakso yang paling sesuai dengan rasa autentik bakso malang ala masa kecil. Semua bakso terenak masa kecilku adalah yang dijual di gerobak dorong. Oh I loved that bakso babi yang dijual di rombong putih. Satu lagi, bakso sapi di depan SDK St. Fransiskus!

Sudah siang pas kita selesai makan dan langsung melaju ke arah Probolinggo. Ruas kiri lancar jaya. Sebaliknya, ruas kanan macet gila! Bukan kota yang kukenal, sepertinya. Kota terasa makin kering, makin sumpek, makin kecil. Jalan raya yang dulu sepertinya lebaaaar banget, sekarang kok sepertinya kecil saja. dulu, aku serasa harus sprint untuk sampai di seberang, harus jalan jauuuuh dari rumah ke stadion. Jauh banget. Ini kok dekat banget ya? Kayak dari Sarinah ke PI. Duluuuuuu, tanjakan Toyomarto ke Bedali kayaknya terjal, sampai-sampai kalau lewat, perut terasa geli saking mobil menukik tajam. Ini kok nggak ya?

Tambah kaget lagi aku pas kita cepat sekali sampai di Lawang. Serius. Dulu, kayaknya perjalanan panjaaaaaaaang banget dari Malang ke sana.

Rumah yang dulu kutempati juga “mengecil”. Dulu, kalau lari dari depan pagar ke pintu rumah, rasanya jauuuuh. Kemarin kok…. Kok nggak sebesar dan seluas itu ya? Hilang sudah gaya art deco karena rumah dari Anno 1910 itu dipugar fasadnya. Aku juga hampir nggak mengenali gereja Katolik di depannya. Sudah dipugar juga fasadnya.

Have I outgrown my hometown?

0 Comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *