Belanja Bulanan di Luar Negeri (Grocery Shopping Abroad)

Judul yang agak sedikit terlalu bombastis. Kesannya…. Tapi, tiap ada kesempatan ke luar negeri, salah satu yang aku cek adalah pasar tradisional atau swalayan. Aku suka cek produk-produk lokal, terutama yang tidak kutemukan di Indonesia. Lagipula, aku memang suka belanja bulanan (grocery) karena sedang suka masak dan…juga sedang gemar bercocok tanam. Semua botol dan karton bekas aku daur ulang jadi media tanam. You know, mengurangi sampah dengan kreatif. Sayangi bumi.

Balik lagi ke belanja keperluan di luar negeri. Selalu ada produk yang menarik, misalnya kopi dan sardin bersertifikat Free Trade, minyak jarak, tepung okra, bumbu siap pakai (kari hijau Thailand, pasta udang Vietnam, bak kut teh Malaysia). Sesekali, aku lihat produk Indonesia diimpor, seperti air kemasan di Singapura ada yang sumbernya di Gunung Bromo. Hebat, jauh banget! Satu kali, aku juga girang menemukan delima (buah yang sangat mahal di Jakarta tapi jauh lebih murah di Singapura) dan kubeli 1 kilo lalu melahapnya habis di hotel (daripada harus declare di custom bawa bahan pangan mentah).

November kemarin, aku ke Kuala Lumpur untuk konferensi minyak sawit. Di waktu senggang, aku pergi ke pasar. Dulu waktu kecil ada istilah “kue Malaysia” karena produk-produk Malaysia sempat membanjir, jadi agak sedikit nostalgia waktu lihat beberapa biskuit dan almond milk. Tapi, aku nggak terlalu suka, jadi aku nggak beli. Di satu swalayan, aku nemu udang fermentasi (cincalok) yang dulu pernah kubeli di Melaka.

Aku juga coba produk minuman lokal seperti bir dan jus yang aku beli lantaran desain botolnya keren hahaha. Jadi, waktu balik, koperku makin penuh dengan pretzel, Nutella (edisi botol beling), teh, bumbu semula jadi (instan), buku, permen, dan tak lupa sampah botol dan karton bekas untuk dijadikan pot. You know, mengurangi sampah dengan kreatif. Sayangi bumi….

Begitu mendarat di Bali, aku digiring ke pemeriksaan. Ada apa nih??

Si polisi jawab, “Pemeriksaan acak.”

Aku disuruh bongkar semua barang. Seumur-umur, aku baru kali ini tas dan koper dibongkari. Karena tidak punya narkoba, aku tenang saja. Belum selesai juga, aku diminta buka telapak tangan, lalu dia pakai alat untuk ambil sampel keringat. Andai waktu itu aku sampai dites napas—ala film-film Hollywood—atau tes urin, aku bakal sekalian minta medical check up!

Dia tanya, “Buat apa sampah-sampah ini?”

Kujawab, “Mengurangi sampah dengan kreatif. Sayangi bumi.”

Sekitar 15 menit kemudian, pemeriksaan selesai dan aku boleh pergi. Aku nggak langsung pergi, bukan betah tapi karena harus packing lagi! Ribet dah! Belanja bulanan nggak pernah berbuntut “seseru” ini!

20160304_185415
Belanja kopi vietnam

Waktu ke Indochina kemarin, aku sempat degdegan belanja, tapi melihat ragam produk di sana, aku tak kuasa menahan hasrat. Setiap produk seakan-akan berteriak, “Bawa aku pulang!” Ada untungnya kali ini koper ditinggal biar tidak perlu antre bagasi (karena tunggu ambil bagasi pasti lamanya ampun deh!) dan sudah tobat bawa “sampah” hahaha.…

Akhirnya, aku “hanya” beli bumbu instan, kopi, biskuit, permen, dan drip coffee. Begitu mendarat, aku pasang tampang lempang dan melangkah pasti. Horree, nggak dicegat!

Punya pengalaman belanja grocery di luar negeri? Kalau ada, please share the story!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *