But First, Makan! (Bangkok Street Food Guide)

“Hmm, siapa elu cuma libur beberapa hari di Bangkok tapi menuliskan panduan kayak lu tinggal di situ dan khatam daerah situ.”

Eits, benar juga. Namanya juga seseruan. Panduan dangkal, lebih tepatnya. 


Beberapa tahun lalu, aku pergi ke Duesseldorf. Di hari kelima, aku tak bisa tahan rindu sambal. Lucu, sebab aku (saat itu) nggak begitu suka rasa pedas. Maka, pergilah aku naik kereta ke Altstadt untuk makan di resto Thai (tak ada resto Indonesia). Aku pesan nasi goreng pedas. Lalu, tersajilah pesanan plus satu lepek mini (kecil banget, mungkin adiknya lepek) irisan cabai segar. Oh, demi kasih Allah yang maharahim, itu makanan dan cabai rasanya wuih, lezat bukan main! Sejak itulah aku suka masakan Thai.

2016-03-15 12.53.02-1

So, bertahun-tahun sejak pengalaman itu, aku baru pertama kali menjejakkan kaki (dalam makna yang sebenarnya) di Bangkok. Duuuuuuuuuuulu pernah ke sana, tapi transit doang. Transit yang aneh karena bahkan nggak turun dari pesawat, hahahaha.

I really love its street food culture! Pilihan makannannya banyak banget, secara visual menarik, dan aromanya itu lho…. Kali ini, aku pilih makanan jalanan supaya bisa “merasakan Bangkok yang sebenarnya” (whatever that means!) karena mudah ditemukan, dari pinggir jalan sampai pinggir sungai.

Selain (terlihat) higienis, harganya murah pun! Rasanya? Hm, jangan ditanya. Benarlah kata kawanku itu: “Nggak ada makanan yang nggak enak di Bangkok!”

Nah, berdasarkan pengalaman singkat, aku akan kasih panduan (amatir):

1. Di mana banyak warga lokal makan, pergilah ke situ!
Pertanyaan: bagaimana mengenali warga lokal kalau wajah kita (dan wajah turis-turis Asia pada umumnya) mirip mereka? Well, dengarkan saja obrolan mereka: dalam bahasa apa? Kalau warungnya ramai dan semua berbicara dalam bahasa Thai, mampirlah di situ.

Menu umumnya dicetak dalam bahasa Thai dan Inggris, jadi seharusnya tiada kendala bahasa. Ketika ada menu dalam bahasa Thai dan penjual tidak berbahasa Inggris, aku tunjuk menu yang sedang dimakan seorang bapak di sebelahku, lalu kubilang (dalam bahasa Indonesia), “Bu, aku mau pesan seperti yang dimakan bapak itu ya.” Dia mengangguk saja. Lima menit kemudian, tersajilah menu sesuai pesanan. Case closed.

2. Cobalah hasil buminya, terutama buah (and you’ll know why)
Dulu, dan mungkin masih, buah-buah di Indonesia sering dikasih embel-embel bangkok: dari jambu sampai semangka. Mengingat sedang di Bangkok, mengapa tidak makan sesuatu yang “Bangkok”? Buah-buah di gerobak pinggir jalan saja terlihat begitu menggiurkan (untuk sesaat aku memahami mengapa manusia dulu jatuh dalam dosa akibat makan buah terlarang!) dan rasanya pun tak mengecewakan: segar, juicy, dan renyah. Ada pula “bumbu rujak” (gula, garam, cabai kering, dan kristal-kristal MSG) di plastik terpisah.

3. Coba menu vegetarian
Buddhisme kuat di Thailand sebagaimana hegemoni Islam kental di Indonesia, barangkali karena itulah menu vegetarian mudah ditemukan, seperti sosis vegetarian, lap ciong vegetarian, dan aneka sayuran. Aku mencoba kwetiau vegetarian di Khaosan. Rasanya ya seperti kwetiau tanpa daging. Enak juga.

4. Skip no desserts
Ketan duren, ketan nangka, dan ketan mangga sudah umum. Aku sempat nemu aneka kue (surprisingly mirip di Indonesia: kue cucur, nagasari etc) dan es campur. Aku juga coba es duren dan es puter (es krim tanpa susu tapi pakai santan). Ada yang disajikan dalam kelapa muda. Jadi, daging kelapanya bisa sekalian dikorek. Di luar gerbang Wat Pho ada es puter yang ditaruh di irisan roti (kayak zaman SD dulu!) dengan topping manisan (labu, singkong, nanas) untuk dipilih sendiri.

5. Cicipi manisnya kehidupan, eh, minuman
Sepertinya warga sana suka minuman manis. Semua minuman dimaniskan dengan gula atau susu kental manis. Kopi dan teh umumnya produk instan yang mereknya juga ada di Indonesia. Tentang kopi lokal Thailand, aku sudah menuliskannya di sini.

6. Cobalah puasa nasi!
Alasannya politis: Indonesia juga impor beras dari negeri gajah putih. Jadi, pilihlah mi (walau kwetiau dan beberapa jenis mi juga dibuat dari beras, mind you! At least bentuknya bukan bulir nasi hahaha). Ber-can-da. Menurut pengamatanku, warga sini lebih suka mi daripada nasi, jadi aku pun mencoba aneka mi, dari vegetarian sampai nonvegetarian. Berikut ini favoritku, melibatkan mi putih:

  • Mi Babi
    Di dekat dermaga Pratunam ada pujasera yang semua menunya membuatku lemah iman. Aku coba Pork Noodle with Thick Soup: mi putih, bakso ikan, daging babi, kangkung, kuah pekat (25THB). Kecil porsinya tapi enak. Karena belum kenyang, aku ke kedai sebelah dan pesan Pork Noodle: mi ala Chinese food dengan irisan besar pork belly (50THB). Porsinya besar dan rasanya gurih nikmat!
  • Mi Bebek
    Di seberang Siam Paragon ada pujasera di gang kecil. Seisi gang wangi masakan. Dijamin langsung lapar kalau lewat di sana. Aku coba mi bebek (40THB): mi putih, semacam bebek asap ala Peking, sawi, kuah panas. Sebenarnya dia disajikan dengan puding darah ayam (blood pudding atau dedeh dalam bahasa Jawa), tapi karena tidak suka, aku minta itu diganti babi panggang. Kuahnya pun jadi semakin kaya rasa.

Dari lubuk perut yang terdalam, aku berharap tulisan ini dapat memberikan manfaat. Kalau ada jenis makanan dan minuman lain yang direkomendasikan, do tell me! Aku masih ingin balik ke Bangkok karena banyak makanan yang belum kucoba!

0 Comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *